ADAT BERSENDI SYARA', SYARA' BERSENDI KITABULLAH

 ADAT BERSENDI SYARA', SYARA' BERSENDI KITABULLAH


Berikut yang kami dapati dan kami pahami Apa yang di maksud dengan Kalimat tersebut


Hukum adat yang ada harus berdasarkan syara'/agama,sementara agama harus berdasarkan kitabullah /al qur'an ✔


Tatanan yang dipegang erat sebagai dasar hubungan adat dan agama adalah ungkapan Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah (adat bersendi syariat dan syariat bersendi kitab Allah Yaitu Alqur'an


Jadi kalau kita kaji lebih dalam lagi,   jikalau ada upacara adat atau ritual adat yang Bertentangan dengan isi Kitab Allah ( Alqur'an ) ini Harus di luruskan dan tidak boleh lakukan


Namun kalau kita Cermati  dan Kita perhatikan  banyak kita jumpai di sebagian dari kebiasaan  masyarakat  yang memakai Adat  Yang Dasar Adatnya Memakai kalimat tersebut

Namun pada prakteknya di kehidupan  kita masih ada yang melakukan hal-hal  ritual atau mengisi acara  adat kepada hal-hal yang bertetentangan dengan Alqur'an   & Sunnah Seperti Ziarah ke Kuburan keramat,   memberikan sesajian,  , pergi ke Dukun, memakai jimat , memberikan sesajian dan memotong hewan di kuburan Nenek moyang. Dll


Padahal puncak tertinggi adat adalah Adat harus berpepegang ke pada Al qur'an


Berikut keterangan Dari Hadist Nabi Al-Qur'an


مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً


“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal dan bertanya kepadanya tentang suatu perkara, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari” (HR. Muslim).


Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,


مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ


“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal dan dia membenarkan ucapannya, maka dia berarti telah kufur pada Al-Quran yang telah diturunkan pada Muhammad.” (HR. Ahmad, hasan).


Dukun adalah orang yang mengaku mengetahui perkara yang gaib. Termasuk kategori dukun adalah paranormal, tukang ramal, ahli nujum, dan yang semisal mereka. Siapa saja yang menceritakan tentang perkara di masa datang yang belum terjadi atau mengaku mengetahui perkara gaib, maka statusnya adalah dukun.


Para rasul tidaklah mengetahui perkara gaib kecuali hanya sedikit dari yang telah Allah ajarkan kepada mereka,


عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَداًلَّا مَنِ ارْتَضَى مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَداً


“ (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang gaib itu kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya. Maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.”  (QS. Al-Jin: 26-27


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴿١٦٢﴾لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ


Katakanlah, Sesungguhnya shalatku,, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya ; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)“. [Al-An’am/6 : 162-163]


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ ﴿١٠٦﴾ وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ ۚ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ “Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah ; sebab jika kamu berbuat (yang demikian itu) maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim. Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karuniaNya. Dia memberikan kabaikan itu kepada siapa yang dikehendakiNya diantara hamba-hambaNya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“. [Yunus/10 : 106-107


Itulah sebagian kecil dalil yang bisa saya ketikkan 

Yang di ambil dari berbagai sumber, mudah-mudahan bermanfaat.


Kalau ada yg benar itu dari Allah  dan Rasul-nya, dan kalau ada yg salah itu murni dari kesalahan   dan kekurangan pengetahuan saya  Allah dan rasulnya terbebaskan dari kesalahan tesebut


Didalam sebuah hadist Rosulullah bersabda:


مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ


“Siapa yang Allah  kehendaki kebaikan baginya, Allah pahamkan atasnya perihal agama.” Hadits tersebut merupakan penggalan hadits riwayat Imam Al-Bukhori dalam kitab Kutubul ‘Ilmy no. 71.


Dalam kalimat pertama pada hadits tersebut dijelaskan مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا “siapa yang Allah kehendaki kebaikan atas dirinya”, tentu saja “baik” yang dimaksud dalam hadits ini adalah baik menurut Allah. Karena “baik” menurut manusia masih bersifat relatif. Sehingga “baik” yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah sebuah kepastian karena bersifat mutlak.


Jika kita belum mampu berlomba dengan shaleh meningkatkan kebaikan amal ibadah, Mari kita berlomba dengan Para Pendosa untuk beristighfar dan memperbaiki dalam kehidupan


Wassalamu'alaikum 


Rolan 

20 Syawal 1442 H

Komentar